IMG-LOGO
Pertanian

Agrinergie, Konsep Tumpang Sari Lahan Pertanian dengan PLTS

-
IMG
Jakarta, teknonomi- Potensi pemanfaataan energi surya di Indonesia sangat luas, mulai dari penerangan rumah dan jalan didaerah terpencil dan terisolasi, menjadi catu daya sistem telekomunikasi, catu daya rambu-rambu lalu lintas,  pompa air sampai untuk kebutuhan aktivitas pertanian.


Namun hingga saat ini pemanfataan PLTS baru masih terkendala minimnya investasi IPP serta beberapa persoalan seperti; keekonomian, dukungan financial, bunga bank yang terlalu tinggi, akuisisi lahan, maupun kendala teknis seperti terbatasnya ketersediaan jaringan interkoneksi dan lain-lain.


Disamping itu, ketersediaan lahan menjadi salah satu tantangan bagi pengembangan listrik dari EBT (Energi Baru Terbarukan) dalam hal ini khususnya bagi PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya). Diperkirakan untuk membuat PLTS photovoltaic power generation 1000 MW dibutuhkan luas area 67 Km2.


Pemerintah dan beberapa pemangku kepentingan pun berinovasi dalam wadah Gerakan Nasional Sejuta Surya Atap Menuju Gigawatt. Gerakan ini memfokuskan pada atap perumahan, gedung perkantoran dan industri.


Tapi jangan lupa, eenarnya salah satu kawasan dengan area luas dan potensial bagi pegembangan PLTS adalah lahan pertanian.  Menurut BPPT tahun 2014, sektor pertanian adalah salah satu kontributor dari 34,8% konsumsi energi dari sektor industri  Indonesia. Jadi akan sangat strategis menghubungkan dan mengkombinasikan EBT dengan bidang pertanian.

 

Lantas apakah ada sebuah konsep yang bisa saling mengkombinasikan?


Perusahaan listrik swasta asal Prancis bernama Akuo Energy yang berdiri tahun 2007, menginisiasi sebuah konsep bernama Agrinergie yang merupakan inovasi kombinasi dan sinergi aktivitas pertanian  organik dengan aktivitas PLTS di area yang sama. Berdasarkan risetnya, panel surya bisa yang dipasang bisa efisien dan efektif jika dipasang dilahan pertanian.


Menurut Akuo, keuntungan memakai konsep ini bagi petani adalah adanya sustainibilty development karena beberapa kegiatan pertanian secara tidak langsung membutuhkan listrik akan terpenuhi seperti;  pengolahan, pasca-panen, penyimpanan dan pendinginan.

 
Petani juga mendapatkan efisiensi dari pengurangan konsumsi energi peningkatan efisiensi energi. Jadi konsep agrinergie ini menjanjikan peluang pengembangan bisnis substansial sepanjang rantai nilai pertanian.


Agrienergie telah mengalami dua regenerasi. Pada generasi pertama memakai konsep biasa dimana ground panel surya dipasang saja di tanah pertanian. Disini, ahli agronomi dari Akuo Energy akan menekankan jenis tanaman tradisional yang cocok dengan holistik berkelanjutan dan sesuai keahlian petani  setempat.


Pada generasi kedua, dilengkapi dengan menggunakan rumah kaca dengan penutup semi-fotovoltaik dalam area pertanian. Dengan rumah kaca, listrik yang dihasilkan bisa menetralisir penggunaan lahan dan  petani akan memiliki fasilitas yang efisien, karena tanaman dilindungi dari cuaca yang tak cocok, serangan serangga dan sebagainya.  Petani dapat mengatur siklus produksi mereka lebih dekat, mengendalikan hasil panen, memperbaiki kualitas dan membatasi penggunaan bahan kimia. 


Disisi lain, Agrinergie terikat dalam permakultur untuk menciptakan operasi pertanian yang tangguh dan hemat energi dan energi, dengan memanfaatkan penggunaan spesies tanaman komplementer sehingga menciptakan penanaman permanen dan meningkatkan kualitas tanah.


Saat ini diberbagai belahan dunia sudah ada 24 proyek Agrinergie diantaranya; di Marie Galante sebesar 2 MW Kepulauan Karibia,  Sainte Marguerite 2.5 MW di Kepulauan Karibia. Lalu di Prancis ada; Rapale 9.8 MW, Pascialone, 4.5 MW, Santa Lucia 3.5 MW, Olmo II 4.2 MW, Mortella 7 MW, Midi 12 MW,  Plateau12 MW, Château, 3.9 MW, Broussan 2 MW, Energie du Gâtinais, 24 MW, Le Syndicat, 2,1 MW.

Kemudian ada di Negara-negara kawasan Samudera Hindia seperti; Pierrefonds. 2.1 MW, Ligne des 400, 2.6 MW, Chemin Canal 2.6 MW,  Agrisol 1.6 MW,  Bardzour 9 MW, Les Cèdres 9 MW, Agrinergie I, 1 MW, Agrinergie III 1.9 MW, Agrinergie V, 1.4 MW, Henrieta, 17.5 MW, dan Focola 1.7 MW.

Di Indonesia, Akuo Energy, tercatat telah menandatangani perjanjian kerjasama yang unik dengan PT Milllennium Challenge Account Indonesia (MCA-Indonesia) untuk pengembangan 3 PV off-grid proyek. 

Pengamat listrik dari MKI (Masyarakat Ketenagalistikan Indonesia), Ifnaldi Sikumbang menyatakan, dengan "tumpang sari" kegiatan energi dan pertanian ini  akan mendorong tumbuhnya lapangan kerja hijau (green jobs)

Kemudian bisa mendorong penyediaan listrik yang handal, berkelanjutan dan kompetitif. Mendorong dan memobilisasi partisipasi masyarakat untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dan ancaman perubahan iklim, dan ikut mendukung terlaksananya komitmen Indonesia atas Paris Agreement dan upaya mencapai tujuan Sustainable Development Goals (SDGs).