IMG-LOGO
Perkapalan

Jika Tambah Kapal Milik Sendiri, Pertamina Makin Efisien

-
IMG

Jakarta,  teknonomi– Hingga saat ini PT Pertamina (Persero) mengakui bahwa, jumlah unit kapal kargo untuk mengangkut Bahan Bakar Minyak (BBM) yang didistribusikan ke berbagai wilayah di Indonesia belum ideal.

Hal tersebut seperti yang dikemukakan oleh Direktur Logistic, Supply Chain & Infrastructure (LSCI) Pertamina, Gandhi Sriwidodo dalam sambutannya di acara seminar bertema Peran Strategis Pertamina Shipping Dalam Menjaga Keberlangsungan Bisnis Perusahaan, di Hotel Grand Mercure Kemayoran, Jumat (20/9).

Menurut Gandhi, saat ini tercatat jumlah kapal milik sementara hanya sekitar 68 unit dari total pengelolaan kapal sebanyak 274 unit kapal.

“Itu artinya hanya sekitar 25 persen saja yang dimiliki Pertamina sebagai BUMN Migas terbesar di Indonesia,” ujarnya.

Gandhi mengungkapkan, untuk memenuhi kebutuhan logistik atau pengangkutan BBM hingga ke pelosok negeri, saat ini Pertamina mengandalkan kapal charter atau sewa. Hal ini diakui berdampak pada cost yang harus dikeluarkan Pertamina cukup besar.

Dirinya menjelaskan, masih minimnya investasi kapal di Pertamina dikarenakan pemangku kebijakan terlena dengan nama besar Pertamina yang menjadi satu-satunya BUMN migas andalan di negeri ini.

“Sayangnya dari 274 kapal, yang kita miliki itu hanya 60an atau sekitar 25 persen, ini menarik untuk dibahas. Selama ini kita selalu merasa hebat ni, tapi lupa untuk berinvestasi,” pungkasnya.

Ketua Umum Serikat Pekerja Forum Komunikasi Pekerja dan Pelaut Aktif (SP FKPPA) Pertamina, Nur Hermawan, menyatakan apabila PT Pertamina (Persero) mendominasi kepemilikan kapal untuk penyaluran BBM ke berbagai wilayah, maka secara bisnis dapat menghemat biaya distribusi.

Pasalnya, menurut Nur Hermawan, diperkirakan khusus untuk biaya distribusi bisa dihemat hingga 80 persen ketika menggunakan kapal milik sendiri.

“Efisiensi bisa dihitung dari pengangkutan kargo itu itungannya cost per liter jadi akan sangat efisien,” ujarnya dalam kesempatan yang sama.

Nur Hermawan mengungkapkan, jika kapal kita terus bertambah, maka tidak akan mengeluarkan biaya banyak untul mencarter kapal carter.

“Sebab itungan biayanya dengan kapal kargo dan kapal milik itu beda mungkin bisa 80 persen. Nilainya bukan lagi miliaran tapi triliunan,” tutupnya.