IMG-LOGO
Migas

Tingkatkan Keandalan Kilang, Direktorat Pengolahan Pertamina Implementasikan Digitalisasi

-
IMG

Jakarta, teknonomi-- PT Pertamina (Persero) sedang menggenjot implementasi teknologi digital dalam kinerja bisnisnya baik di upstream, midstream, maupun downstream. Transformasi digital Pertamina mengusung tema DIGITALISUS untuk mendukung operasional agar dapat terus bersaing serta mampu menjalankan bisnisnya dengan lebih efektif dan efisien.


“Transformasi digital Pertamina dilakukan di semua sektor dan tak terkecuali di Direktorat Pengolahan. Digitalisasi disini terutama digunakan untuk program-program peningkatan keandalan kilang” jelas Direktur Pengolahan Pertamina, Budi Santoso Syarif kepada Teknonomi di kantornya dalam wawancara khusus, ditulis (12/11).


Dilanjutkannya, sebenarnya implementasi teknologi digital di Direktorat Pengolahan Pertamina sudah dilakukan sejak 2011. Pada waktu itu mulai dikembangkan Process Information System dimana data-data operasi kilang dapat dimonitor secara online berbasis web-system sehingga pekerja di Kantor Pusat Jakarta atau di mana pun dapat memonitor data operasi di seluruh kilang. Data tersebut juga dapat dimonitor ketika pekerja sedang bepergian atau mobile sehingga amat sangat fleksibel.


“Pengembangan infrastruktur digital terus dilakukan Direktorat Pengolahan Pertamina sejak 2011 sampai dengan 2018 diantaranya Real Time Information System, Refinery Reliability Dashboard, dan sebagainya,” ungkapnya.


Program peningkatan keandalan kilang di Direktorat Pengolahan Pertamina adalah sesuai dengan roadmap transformasi (perubahan) metode maintenance kilang Pertamina. Dalam perjalanannya, pengolahan Pertamina mengalami beberapa perubahan metode maintenance.


Metode paling awal adalah Breakdown Maintenance sejak 1957, yang terjadi saat maintenance baru dilakukan ketika peralatan rusak (breakdown). Pada 1970, mulai dilakukan Preventive Maintenance yang dilakukan secara berkala dan terjadwal.


Selanjutnya pada 1990, metode maintenance berkembang menjadi Condition Base Maintenance (CbM). Saat itu, maintenance peralatan kilang dilakukan sebelum terjadi kegagalan dengan mengacu kepada kondisi peralatan.


Ketiga metode maintenance tersebut, amat sangat bergantung terhadap skill dari pekerja (human-skill) mengingat evaluasi atas kondisi peralatan dilakukan pekerja Planner maupun Engineer.


Hal ini sangat rawan mengingat Direktorat Pengolahan Pertamina saat ini sedang mengalami gap generation, yang mana 65% pekerja adalah berusia muda di bawah 40 tahun atau dikenal dengan istilah Gen-Y (Generation Y).


Pekerja muda tersebut masih belum memiliki expertise yang cukup dan membutuhkan upgrade skill dan knowledge. Ketergantungan terhadap human-skill ini juga menyebabkan maintenance menjadi rawan terkendala human-error.


Berdasarkan hal tersebut, maka akan dikembangkan Predictive Maintenance (PdM). Dengan adanya PdM tersebut, ketika terjadi deviasi atas kondisi operasi kilang dapat memunculkan early warning berupa notifikasi dan rekomendasi sehingga kegagalan equipment dapat dicegah dan menghemat maintenance cost karena perbaikan equipment lebih terencana (in time spare parts).


PDM juga membuat kinerja tidak bergantung terhadap human-skill karena berbasis Artificial Intelligence (AI). Hal ini dapat mengurangi kemungkinan terjadinya human-error dalam kegiatan operasional kilang akibat adanya lack of knowledge dan lack of skill dari pekerja muda Planner maupun Engineer. Pengembangan PdM akan mulai diimplementasikan dengan Pilot Project RFCC Balongan.


“AI untuk maintenance equipment kilang agar kerusakan dapat terdeksi sejak lebih awal sehingga mengurangi unplanned shutdown dan menghindari catastrophic damage,“ tegasnya.


Secara paralel juga dibuat program meningkatkan kompetensi SDM di Direktorat Pengolahan Pertamina agar metode maintenance yang masih dilakukan saat ini dapat dilakukan dengan lebih efektif sebelum nantinya PdM diimplementasikan di seluruh kilang.


Program quick win digital

Lebih lajut ia menjelaskan bahwa Direktorat Pertamina ada Program Quick Win Digital terdiri atas 2 (dua) program utama yaitu : Early Warning Response System (EWaRS) dan Digitalisasi Online Dashboard Kilang.


Early Warning Response System (EWaRS) adalah sebuah program, yang mampu pencatatan kondisi peralatan kilang seperti vibrasi, temperature,dan sebagainya. Program tersebut dilakukan secara digital menggunakan barcode dan digital handheld. Data operasi tersebut selanjutnya akan tercatat di server dan bila terjadi deviasi maka akan muncul Early Warning berupa notifikasi untuk segera diteruskan kepada Engineer terkait sehingga dapat segera dilakukan evaluasi atas kondisi peralatan dan dilakukan aksi perbaikan. Selama ini pencatatan data operasi dilakukan secara manual melalui log-book saat dibutuhkan untuk evaluasi data tersebut sulit untuk diolah dengan cepat.


Digitalisasi Online Dashboard Kilang adalah program untuk monitoring kondisi operasi kilang secara online berbasis web, yang mana status operasional kilang seperti Plant Capacity, Crude Intake, Product Yield, da lain-lain dapat dimonitor secara real-time.


Dengan dashboard tersebut, Gross Margin Kilang juga dapat dimonitor secara real time sehingga seluruh pekerja dapat lebih sadar bilamana terjadi penurunan performance kilang karena berakibat langsung terhadap penurunan margin.


Dari semua langkah digitalisasi tadi diharapkan kilang-kilang Pertamina berkelas dunia (world class refinery) dari berbagai sisi baik itu operational, quality dan terutama keselamatan kerja,” tandas Budi menutup pembicraan. (W1)