IMG-LOGO
Migas

ExxonMobil dan FuelCell Energy Kerjasama Garap Teknologi Carbon Capture

-
IMG

IRVING, Texas, Teknonomi – ExxonMobil dan FuelCell Energy, Inc telah sepakat untuk melakukan pengembangan bersama selama dua tahun guna meningkatkan teknologi sel bahan bakar karbonat. Teknologi ini diyakini mampu meningkatkan daya serap karbon dioksida (CO2) dari fasilitas industri.



Kedua perusahaan telah menandatangani perjanjian kerjasama bernilai hingga $ 60 juta. Kerja bareng ini akan fokus terhadap upaya optimalisasi teknologi inti, proses integrasi secara menyeluruh dan pengembangan solusi penangkapan karbon berskala besar. ExxonMobil sedang menjajaki opsi untuk melakukan uji coba solusi penangkapan karbon (carbon capture) untuk sel bahan bakar masa depan ini di salah satu lokasi operasinya.


“ExxonMobil akan terus mengembangkan teknologi penangkapan karbon agar bisa mengurangi biaya dan meningkatkan skalabilitas,” kata Vice President of Research and Development for ExxonMobil Research and Engineering Company, Vijay Swarup, Rabu (6/11).

Menurut Vijay, kerjasama dengan FuelCell Energy untuk menemukan solusi penangkapan karbon yang unik dan berpotensi mengurangi secara signifikan emisi CO2 dari operasi-operasi industri.

Teknologi eksklusif milik FuelCell Energy menggunakan sel bahan bakar karbonat untuk secara efisien menangkap dan memusatkan aliran CO2 dari sumber-sumber industri besar. Cerobong pembakaran diarahkan ke sel bahan bakar, yang menghasilkan tenaga sambil menangkap dan memusatkan CO2 untuk disimpan secara permanen.



Desain modular ini memungkinkan teknologi tersebut bisa digunakan di berbagai lokasi dengan jangkauan luas. Langah ini diyakini bisa menghemat biaya dalam pengembangan penangkapan dan penyerapan karbon berskala besar. “Kesepakatan ini menggarisbawahi keunggulan kami dalam teknologi sel bahan bakar,” kata President dan Chief Executive Officer FuelCell Energy, Jason Few.



Jason menyatakan sangat bersemangat untuk terus bekerja sama dengan ExxonMobil dalam mengatasi salah satu tantangan terbesar yang ada saat ini. Apalagi, FuelCell Energy berpeluang besar meningkatkan dan mengkomersilkan solusi penangkapan karbon-nya yang unik tersebut. “Teknologi ini mampu menangkap sekitar 90 persen CO2 dari berbagai aliran gas buang, dan tentunya sambil menghasilkan daya tambahan. Ini tidak seperti teknologi penangkapan karbon tradisional yang hanya mengkonsumsi daya,” jelasnya.

Jason juga menyatakan selalu bangga dengan teknologi dan peran FuelCell Energy dalam membentuk kembali dampak lingkungan dari industri dan pembangkit listrik. Ini disebutnya sebagai langkah besar menuju pengembangan berskala besar dari teknologi yang sangat dibutuhkan tersebut.


Sejak tahun 2016, ExxonMobil dan FuelCell Energy telah menjalin kerja sama dengan fokus pada pemahaman yang lebih baik tentang ilmu dasar di balik sel bahan bakar (fuel cell) karbonat dan bagaimana meningkatkan efisiensi dalam memisahkan dan memusatkan CO2 dari pembuangan pembangkit listrik tenaga gas (PLTG). Kesepakatan baru dan lebih diperluas ini akan memprioritaskan optimalisasi teknologi inti penangkapan karbon untuk diintegrasikan ke dalam fasilitas industri berskala besar seperti kilang BBM dan petrokimia.



Para peneliti dan teknisi ExxonMobil telah meneliti, mengembangkan, dan menerapkan teknologi yang dapat berperan besar dalam penangkapan dan penyimpanan karbon selama lebih dari 30 tahun. Perusahaan migas ini memiliki kepentingan dalam sekitar seperlima dari total kapasitas penangkapan karbon dunia, dan telah menangkap sekitar 7 juta ton CO2 per tahun. Inilah yang membuat ExxonMobil telah menangkap lebih banyak CO2 dibandingkan perusahaan-perusahaan lainnya.(W1)

(Sumber Petrominer)